Pengeprak Muda Gilangharjo Peraih Penata Iringan Terbaik Festival Ketoprak Bantul 2026
Gilangharjo, Gilang Priyambodo merupakan salah satu seniman muda berbakat asal Bongsren RT 06, Kalurahan Gilangharjo, yang dikenal aktif dalam dunia seni dan budaya, khususnya karawitan ketoprak serta berbagai bentuk seni pertunjukan lainnya. Ia juga terlibat dalam berbagai eksplorasi musik, termasuk band pop keroncong dan bentuk pertunjukan musik tradisional modern.
Dalam dunia ketoprak, Gilang dikenal sebagai penabuh keprak, sebuah peran penting yang berfungsi mengatur ritme dramatik pertunjukan, setara dengan seorang konduktor dalam orkestra Barat. Peran ini menempatkannya sebagai salah satu elemen kunci dalam menjaga dinamika dan alur cerita di atas panggung.
Ketertarikan Gilang terhadap dunia seni sudah tumbuh sejak bangku sekolah dasar melalui kesenian rakyat. Namun, keterlibatannya dalam ranah seni yang lebih profesional mulai berkembang sejak tahun 2014, ketika ia aktif dalam berbagai kegiatan kesenian rakyat, pertunjukan, hingga festival tingkat kabupaten dan provinsi.
Motivasi utamanya menekuni bidang ini sederhana namun kuat: kecintaan terhadap seni serta lingkungan pertemanan yang turut membentuk perjalanan berkesenian yang ia jalani hingga saat ini.
Gilang mengembangkan kemampuannya secara otodidak melalui proses learning by doing di panggung-panggung pertunjukan. Meski demikian, ia juga banyak belajar dari berbagai sanggar seni yang diikutinya secara tidak rutin, yang menjadi fondasi penting dalam pembentukan keterampilannya.
Dalam perjalanan kariernya, ia tidak memiliki satu tokoh tunggal yang menjadi panutan utama. Sebaliknya, ia mengakui bahwa banyak teman seperjuangan yang turut memberikan ilmu dan pengalaman berharga dalam proses berkesenian.
Kemampuan musikalnya tergolong luas. Selain keprak, ia juga menguasai siter, balungan, gitar, bass, serta instrumen keroncong seperti cak dan cuk. Dalam gamelan, ia menguasai hampir seluruh instrumen kecuali kendang, gender, dan rebab. Penguasaan ini ia kembangkan selama lebih dari satu dekade.
Salah satu pencapaian berkesan dalam perjalanan seninya adalah keberhasilannya membawa anak didik SD Negeri Bongsren meraih juara 2 Festival Karawitan se-Pandak pada tahun 2023. Selain itu, Gilang juga pernah mengantarkan SMP Negeri 3 Pandak masuk dalam 7 besar Festival Karawitan SMP se-Kabupaten Bantul, sebuah capaian yang menunjukkan konsistensinya dalam proses pembinaan dan pengembangan generasi muda di bidang seni karawitan.
Di ranah pertunjukan tari, Gilang turut berperan dalam mempersembahkan iringan musik untuk tari ikon Gilangharjo, yaitu Tari Batik Niti Sekar Lipura Gilangharjo, yang menjadi salah satu identitas budaya lokal. Karya ini memperlihatkan kemampuannya dalam mengolah garap musikal yang selaras dengan karakter gerak tari tradisi.
Tidak hanya sebagai pengiring dan pembina, Gilang juga aktif dalam penciptaan karya musikal. Ia bersama timnya berhasil membuat karya aransemen Mars Kalurahan Gilangharjo dalam bentuk alunan musik gamelan, sebuah karya yang menggabungkan nilai kebangsaan dan identitas lokal dalam balutan musik tradisi Jawa. Karya ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata dalam penguatan identitas budaya Kalurahan Gilangharjo melalui medium karawitan.
Puncak prestasi terbarunya adalah saat ia dinobatkan sebagai Penata Iringan Terbaik Kabupaten Bantul dalam Festival Ketoprak Bantul 2026. Penghargaan ini menjadi bukti pengakuan atas dedikasi, kreativitas, dan konsistensinya dalam dunia seni pertunjukan tradisional.
Menurut Gilang, Kalurahan Gilangharjo memiliki potensi seni yang sangat kuat, terutama di bidang karawitan dan tari. Ia melihat bahwa setiap tahun selalu muncul generasi baru yang memiliki bakat seni yang menjanjikan.
Dalam upaya pelestarian budaya, ia aktif melakukan kaderisasi kepada anak-anak usia sekolah dasar dan menengah pertama untuk menggali potensi seni mereka, khususnya di bidang karawitan. Jika ditemukan bakat yang menonjol, ia turut mendorong mereka untuk tampil di tingkat kapanewon, kabupaten, hingga provinsi.
Ia memegang prinsip bahwa “hidupilah seni agar seni bisa menghidupimu”, disertai nilai unggah-ungguh dan kesadaran bahwa selalu ada ruang untuk belajar dari yang lebih berpengalaman.
Gilang menilai bahwa seluruh bentuk kesenian di Gilangharjo seperti ketoprak, reog, jathilan, saparan, nyadran, wiwitan, hingga karawitan masih membutuhkan perhatian serius agar tetap lestari. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan regenerasi pelaku seni tetap berjalan dengan baik.
Ia juga menyoroti perubahan pola penonton ketoprak yang mulai berkurang akibat durasi pertunjukan yang panjang. Untuk itu, ia mendorong adanya inovasi format pertunjukan yang lebih ringkas, misalnya maksimal 2,5 jam dengan sajian yang lebih ringan namun tetap bermakna.
Dukungan dari pemerintah kalurahan melalui fasilitas seperti pendapa balai budaya dan gamelan dinilai sangat penting sebagai ruang ekspresi bagi para seniman.
Harapannya, dalam beberapa tahun ke depan, proses kaderisasi yang telah berjalan selama lima tahun terakhir dapat terus mempertahankan regenerasi seniman di Gilangharjo.
Gilang menyampaikan pesan kuat kepada generasi muda: “Jika bukan kita siapa lagi, jika tidak sekarang kapan lagi, sebelum diklaim negara lain.” Ia menegaskan pentingnya kesadaran untuk menjaga budaya lokal sebagai identitas bersama
“Semua yang kita lakukan sekarang adalah hasil dari yang kita lakukan kemarin, dan akan berimbas pada apa yang akan kita lakukan atau dapatkan di masa depan, baik ataupun buruk.”
Biografi ini menggambarkan perjalanan seorang seniman muda yang tidak hanya berkarya di atas panggung, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga kesinambungan budaya di tengah perubahan zaman.