Gladi Bersih Ketoprak Kontingen Pandak, Sanden, dan Srandakan Digelar di Balai Budaya Gilangharjo, Perkuat Semangat Menuju Pentas Kabupaten

02 Juli 2026
Administrator
Dibaca 11 Kali
Gladi Bersih Ketoprak Kontingen Pandak, Sanden, dan Srandakan Digelar di Balai Budaya Gilangharjo, Perkuat Semangat Menuju Pentas Kabupaten

Gilangharjo – Menjelang pementasan yang akan digelar pada 27 Juni 2026, Kontingen Ketoprak gabungan dari Kapanewon Pandak, Sanden, dan Srandakan menggelar gladi bersih di Balai Budaya Gilangharjo, Kamis (25/6/2026). Kegiatan ini menjadi tahap akhir persiapan sebelum para seniman tampil di hadapan dewan juri dalam ajang Festival Ketoprak tingkat Kabupaten Bantul.

Suasana Balai Budaya Gilangharjo sejak pagi dipenuhi semangat para pelaku seni. Seluruh personel ketoprak, mulai dari pemain, penata musik, pengrawit, sutradara, hingga tim pendukung hadir mengikuti gladi bersih. Setiap adegan dipentaskan secara utuh, lengkap dengan iringan gamelan, tata dialog, blocking pemain, hingga penyempurnaan ekspresi dan alur cerita agar penampilan nantinya dapat berlangsung maksimal.

Gladi bersih tersebut juga mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak. Hadir dalam kesempatan itu Panewu Pandak, Panewu Sanden, dan Panewu Srandakan yang memberikan motivasi kepada seluruh kontingen agar tampil percaya diri serta mampu membawa nama baik wilayah masing-masing melalui sajian seni tradisional yang berkualitas.

Turut hadir pula Sekretaris Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Sarjiman, S.I.P., M.E. Kehadirannya memberikan semangat tersendiri bagi para seniman. Dalam sambutannya, Sarjiman menyampaikan apresiasi atas kekompakan tiga kapanewon yang mampu bersinergi dalam melestarikan seni ketoprak sebagai salah satu identitas budaya masyarakat Bantul.

Ia juga mengaku memiliki ikatan emosional dengan kontingen yang tampil, mengingat dirinya pernah mengemban amanah sebagai Panewu Srandakan. Pengalaman tersebut membuatnya memahami semangat para pelaku seni yang selama ini terus menjaga keberlangsungan kesenian tradisional di tengah derasnya perkembangan hiburan modern.

"Ketoprak bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan yang sarat nilai budaya, sejarah, etika, dan kebersamaan. Saya berharap seluruh pemain dapat tampil lepas, percaya diri, dan memberikan penampilan terbaik. Menang tentu menjadi harapan, namun yang lebih penting adalah menjaga eksistensi seni tradisi agar tetap hidup di tengah masyarakat," ujar Sarjiman.

Sebagai tuan rumah penyelenggaraan gladi bersih, Lurah Gilangharjo juga menyampaikan dukungan penuh kepada seluruh kontingen. Menurutnya, Balai Budaya Gilangharjo memang dipersiapkan sebagai ruang bersama bagi masyarakat untuk mengembangkan berbagai potensi seni dan budaya.

Selain memfasilitasi penggunaan pendapa Balai Budaya Gilangharjo beserta perangkat gamelan sebagai sarana latihan, Pemerintah Kalurahan Gilangharjo juga memberikan dukungan moral agar seluruh pemain tetap menjaga semangat, kekompakan, dan kesehatan menjelang hari pementasan.

Dalam sambutannya, Lurah Gilangharjo, Drs. H. Pardiyono, menyampaikan rasa bangga karena Balai Budaya Gilangharjo kembali dipercaya menjadi tempat persiapan kontingen seni yang akan membawa nama wilayah pada ajang tingkat kabupaten. Menurutnya, pendapa bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang yang menyimpan semangat, doa, dan proses lahirnya berbagai prestasi seni.

Beliau mengingatkan bahwa sebelumnya kontingen Langen Carita juga menjalani seluruh rangkaian latihan di Pendapa Balai Budaya Gilangharjo sebelum tampil pada festival. Berkat kerja keras dan latihan yang sungguh-sungguh, kontingen tersebut berhasil meraih Juara I tingkat Kabupaten Bantul dan berhak mewakili Bantul pada ajang tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mengambil pengalaman tersebut sebagai penyemangat, Pardiyono optimistis bahwa kontingen ketoprak yang tengah berproses juga memiliki peluang besar untuk meraih prestasi terbaik.

"Langen Carita kemarin full latihan di pendapa ini, alhamdulillah mendapatkan Juara I dan melaju ke tingkat provinsi. Ketoprak juga bisa mengikuti jejak itu, minimal masuk tiga besar. Semoga pendapa ini menjadi saksi perjuangan proses kalian, menjadi tempat lahirnya semangat, kekompakan, dan prestasi yang membanggakan," ujar Drs. H. Pardiyono disambut tepuk tangan seluruh peserta yang hadir.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Pemerintah Kalurahan Gilangharjo akan terus membuka ruang bagi para pelaku seni dan budaya untuk memanfaatkan fasilitas yang ada sebagai pusat aktivitas kesenian. Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui kebijakan, tetapi harus diwujudkan dengan memberikan ruang, dukungan, dan kesempatan bagi para seniman untuk terus berkarya.

"Prestasi tidak datang secara instan. Di balik sebuah pementasan yang memukau, ada proses panjang yang dijalani dengan penuh kesabaran, latihan yang berulang-ulang, dan kekompakan seluruh tim. Kami berharap seluruh kontingen tetap menjaga semangat hingga hari pementasan nanti. Apa pun hasilnya, kalian sudah menjadi pejuang budaya yang ikut menjaga warisan leluhur tetap hidup di tengah masyarakat," tambahnya.

Usai memberikan motivasi, Lurah Gilangharjo memimpin doa bersama sebagai bentuk ikhtiar spiritual agar seluruh rangkaian pementasan pada 27 Juni 2026 diberikan kelancaran, kesehatan, serta hasil terbaik. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur, sebelum seluruh peserta menikmati makan bersama dalam suasana penuh keakraban dan kebersamaan.

"Merupakan sebuah kehormatan bagi Kalurahan Gilangharjo dapat menjadi bagian dari proses persiapan kontingen ini. Kami berharap fasilitas yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan baik sebagai ruang berlatih dan berkreasi. Semoga seluruh pemain diberikan kesehatan, kekompakan, dan mampu menampilkan pertunjukan terbaik sehingga dapat mengharumkan nama Pandak, Sanden, dan Srandakan," ungkapnya.

Sebagai bentuk ikhtiar spiritual sebelum menghadapi pementasan, Lurah Gilangharjo kemudian memimpin doa bersama yang diikuti seluruh peserta, tamu undangan, dan pendukung kontingen. Doa dipanjatkan agar seluruh rangkaian pementasan pada 27 Juni 2026 diberikan kelancaran, keselamatan, serta hasil terbaik sesuai harapan.

Suasana haru dan penuh kekeluargaan semakin terasa ketika acara dilanjutkan dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur sekaligus harapan akan keberhasilan penampilan kontingen. Potongan tumpeng pertama diserahkan kepada perwakilan kontingen sebagai wujud dukungan dan kebersamaan seluruh pihak yang terlibat.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama, menciptakan suasana akrab antara para pemain, pengrawit, pelatih, panewu dari tiga kapanewon, jajaran Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Pemerintah Kalurahan Gilangharjo, serta seluruh pendukung yang hadir. Momentum tersebut menjadi penguat semangat bahwa keberhasilan sebuah pementasan bukan hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh soliditas, gotong royong, dan doa bersama.

Gladi bersih ini menjadi penanda kesiapan akhir Kontingen Ketoprak Pandak, Sanden, dan Srandakan sebelum tampil di panggung festival. Besar harapan seluruh elemen yang telah memberikan dukungan agar kontingen mampu menyuguhkan pertunjukan yang memukau, menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Jawa, serta mengukir prestasi yang membanggakan bagi tiga kapanewon dan Kabupaten Bantul.

Melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, seniman, dan masyarakat, seni ketoprak diharapkan terus tumbuh sebagai media pelestarian budaya, pendidikan karakter, sekaligus perekat persaudaraan antardaerah. Dukungan yang terbangun dalam gladi bersih ini menjadi modal berharga untuk melangkah dengan optimisme menuju pementasan pada 27 Juni 2026, dengan harapan setiap adegan yang dipersembahkan mampu menggugah penonton dan membawa hasil terbaik bagi seluruh kontingen.