Luluk, Menjembatani Sains dan Budaya Melalui Gejog Lesung

03 Juli 2026
Administrator
Dibaca 12 Kali
Luluk, Menjembatani Sains dan Budaya Melalui Gejog Lesung

Gilangharjo – Di balik setiap denting lesung yang dipukul secara ritmis, tersimpan lebih dari sekadar irama hiburan rakyat. Ada ilmu pengetahuan, sejarah, hingga nilai budaya yang dapat dipelajari secara mendalam. Sudut pandang itulah yang mengantarkan Luluk Anisa Muafiah, S.Pd., warga Padukuhan Bongsren, Kalurahan Gilangharjo, melahirkan sebuah karya ilmiah yang menghubungkan dunia sains dengan kesenian tradisional.

Sehari-hari, Luluk berprofesi sebagai tutor mata pelajaran Matematika dan Ilmu Sains. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan berpadu dengan kegemarannya membaca buku dan mengoleksi berbagai bacaan nonfiksi. Dari kebiasaan sederhana itulah tumbuh rasa ingin tahu yang besar terhadap budaya lokal, bukan hanya sebagai warisan sejarah atau hiburan masyarakat, tetapi juga sebagai objek kajian ilmiah.

Baginya, setiap tradisi menyimpan fenomena yang dapat dijelaskan melalui ilmu pengetahuan. Pemikiran tersebut kemudian menjadi dasar lahirnya buku berjudul "Mengungkap Fisika di Balik Tradisi (Memahami Mekanika dan Gelombang Bunyi dalam Kesenian Tradisional Gejog Lesung)", sebuah karya yang telah memperoleh hak cipta pada tahun 2025.

Melalui buku tersebut, Luluk mengajak pembaca melihat Gejog Lesung dari sudut pandang yang berbeda. Tidak hanya membahas sejarah dan perkembangan keseniannya, tetapi juga menjelaskan bagaimana prinsip mekanika dan gelombang bunyi bekerja dalam setiap pukulan lesung yang menghasilkan harmoni khas kesenian tradisional tersebut.

Karya itu bukan hadir secara instan. Buku tersebut merupakan hasil penelitian dan pengembangan yang ia lakukan saat menyelesaikan pendidikan sarjana. Seluruh proses penyusunannya dibimbing oleh para dosen pembimbing, praktisi kesenian Gejog Lesung, hingga pelaku penerbitan buku ilmiah.

Menurut Luluk, tantangan terbesar justru muncul ketika mengumpulkan data. Minimnya literatur tertulis mengenai Gejog Lesung membuat sebagian besar informasi harus diperoleh melalui wawancara langsung dengan para pelaku seni. Tidak jarang ditemukan perbedaan informasi antar narasumber karena tradisi berkembang mengikuti karakter masing-masing daerah.

Lebih berat lagi, banyak maestro Gejog Lesung yang telah wafat tanpa sempat mendokumentasikan pengetahuan mereka secara tertulis. Akibatnya, beberapa pola pukulan asli maupun sejarah perkembangannya sulit lagi ditelusuri dan divalidasi. Tantangan tersebut membuat proses penyusunan buku membutuhkan ketelitian tinggi, mulai dari pengumpulan data, validasi informasi, hingga penyusunan tata letak agar mudah dipahami pembaca.

Dalam perjalanan menyelesaikan karya tersebut, Luluk memperoleh banyak dukungan dari berbagai pihak. Ia menyebut Rachmad Resmiyanto, M.Sc. sebagai dosen yang banyak memberikan arahan dalam penyusunan buku. Selain itu, Hermawan dari Kelompok Kesenian Gejog Lesung Gotong Royong, Padukuhan Jomboran, Gilangharjo menjadi narasumber pertama yang membantunya memahami praktik kesenian Gejog Lesung secara langsung.

Kontribusi besar juga datang dari Tri Asmara Suganda, S.Pd., Ketua Forum Komunikasi Gejog Lesung Kajuwuraloka Kabupaten Bantul, yang memberikan berbagai informasi penting sehingga substansi buku menjadi lebih lengkap dan komprehensif.

Selama proses penelitian, Luluk melibatkan dua kelompok seni Gejog Lesung di Kabupaten Bantul, yaitu Kelompok Kesenian Gejog Lesung Gotong Royong dari Jomboran, Gilangharjo, serta Kelompok Gejog Lesung Sekar Wono Laras dari Patihan, Gadingsari, Sanden. Kehadiran para pelaku seni tersebut tidak hanya sebagai narasumber, tetapi juga sebagai validator yang membantu memastikan keakuratan materi dalam bukunya.

Ia bersyukur karena masyarakat menyambut penelitiannya dengan sangat terbuka. Para narasumber dengan sukarela meluangkan waktu untuk diwawancarai, bahkan memperagakan berbagai variasi pukulan Gejog Lesung sebagai bagian dari proses dokumentasi ilmiah.

Bagi Luluk, manfaat terbesar dari karya tersebut bukan sekadar menghasilkan sebuah buku. Lebih dari itu, ia ingin menghadirkan dokumentasi tertulis mengenai budaya yang selama ini lebih banyak diwariskan secara lisan. Dengan demikian, informasi mengenai Gejog Lesung dapat tersimpan lebih baik, lebih mudah dipelajari, dan menjadi referensi bagi generasi mendatang.

Ia juga berharap masyarakat semakin menyadari bahwa sebuah tradisi tidak hanya memiliki nilai hiburan, tetapi juga menyimpan berbagai aspek ilmu pengetahuan yang dapat dikaji dari beragam disiplin, khususnya sains dan fisika.

Ke depan, Luluk berencana menyempurnakan penelitiannya bersama rekan-rekannya melalui pembuktian ilmiah yang lebih mendalam. Ia juga menargetkan penerbitan ISBN bagi bukunya agar dapat menjangkau pembaca yang lebih luas dan memberikan kontribusi lebih besar terhadap pengembangan literatur budaya Indonesia.

Menurutnya, dukungan yang paling dibutuhkan saat ini adalah kesempatan untuk belajar langsung dari para profesional dalam pengembangan buku-buku ilmiah agar kualitas karya yang dihasilkan semakin baik.

Luluk juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kalurahan Gilangharjo yang dinilainya telah memberikan pelayanan cepat dalam proses administrasi penelitian serta membantu menghubungkan dirinya dengan narasumber yang sesuai.

Di akhir perbincangan, Luluk menyampaikan pesan yang sederhana namun penuh makna kepada generasi muda Gilangharjo.

"Tetap semangat mengejar impian masing-masing, apa pun profesi yang ditekuni. Jangan mudah merasa minder dan jangan mudah menyerah. Semua keahlian tidak bisa diperoleh secara instan, tetapi harus melalui proses belajar yang panjang. Seperti pesan Imam Syafi'i yang menjadi salah satu motto hidup saya, 'Belajarlah, karena seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu.' Jangan menunggu diri kita terbentuk, tetapi kitalah yang harus membentuk diri kita sendiri."

Filosofi hidup yang dipegangnya pun begitu sederhana namun mendalam. Ia percaya bahwa setiap perjalanan memiliki waktunya sendiri.

"Alam semesta tidak pernah terburu-buru, tetapi semuanya tercapai."

Melalui semangat tersebut, Luluk Anisa Muafiah membuktikan bahwa kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan dengan upaya melestarikan budaya. Dari sebuah lesung tradisional, ia berhasil menunjukkan bahwa warisan leluhur tidak hanya layak dijaga, tetapi juga dapat dipahami melalui bahasa sains, sehingga semakin relevan bagi generasi masa kini dan masa depan.