Majalah Mata Budaya Disbud DIY Dalami Nilai dan Keberlanjutan Besalen Gilangharjo

14 Agustus 2026
Administrator
Dibaca 7 Kali

Gilangharjo — Tim volunteer jurnalistik Majalah Mata Budaya Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (Disbud DIY) melakukan pendalaman terhadap salah satu tradisi kriya logam yang tengah geliat berkembang di Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul: Tradisi Besalen, Pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Dalam kesempatan ini, Sherin dari tim jurnalistik Mata Budaya menggali secara khusus nilai, sejarah, hingga proyeksi masa depan Besalen melalui wawancara komprehensif bersama dua narasumber utama: Gilang Priyambodo (Wartawan Kalurahan Gilangharjo) serta Empu Hadi Suryo Susanto (Pelaku dan Pembuat Bilah Keris Gilangharjo).

Sebanyak 20 poin pertanyaan kritis dan mendalam dipaparkan oleh Sherin untuk membedah Besalen—bukan sekadar dari kacamata fisik bangunan, melainkan sebagai wadah spiritual, ruang edukasi, dan ekosistem kebudayaan yang dinamis.

Salah satu poin mendasar yang menjadi catatan penting dalam wawancara ini adalah pemisahan pengertian antara "Besalen" sebagai istilah tradisi dan Besalen Keris Gilangharjo sebagai fasilitas fisik.

Secara kultural, Besalen adalah ruang penempaan dan pembentukan bilah keris—tempat bertemunya api, besi, palu, air, tenaga, pengetahuan, dan ketekunan. Sementara itu, fasilitas Besalen Keris Gilangharjo di Santenan, Karangasem, merupakan sarana fisik yang baru dibangun oleh Pemerintah Kalurahan pada rentang tahun 2024–2025 untuk memperkuat aktivitas kebudayaan tersebut.

"Jangan sampai sejarah bangunan fisik yang baru dianggap sebagai titik awal tradisi pande di Gilangharjo. Rooting terdekatnya berakar dari tradisi pande besi Jodog-Karangasem yang secara historis memproduksi alat pertanian, lalu bertransformasi menjadi pande keris melalui pelatihan terstruktur," papar narasumber.

Transformasi tersebut terakselerasi nyata pada kurun tahun 2023 melalui pelatihan pembuat keris hasil kolaborasi Pemerintah Kalurahan Gilangharjo dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul menggunakan dukungan Dana Keistimewaan (Danais). Dari proses inilah lahir empu-empu lokal Gilangharjo yang kemudian melahirkan dua master karya sebagai pusaka resmi Kalurahan: Keris Nespaji Wiguna dan Keris Mahesa Jati.

Besalen di Gilangharjo dipahami memiliki nilai transendental yang melebihi fungsi bengkel kerja. Proses panjang memilih bahan, membakar, menempa, melipat, hingga finishing bilah mengajarkan bahwa segala sesuatu yang bernilai tinggi tidak lahir secara instan.

Beberapa nilai inti yang terefleksikan dari ruang Besalen antara lain:

  • Kesabaran & Ketelitian: Mengatur ritme panas dan menentukan titik pukulan tanpa terburu-buru.

  • Pengendalian Diri & Disiplin: Mengukur penggunaan tenaga secara proporsional.

  • Gotong Royong: Pembagian peran antara empu, peniup perapian, hingga pembantu teknis.

  • Penghormatan Pengetahuan Leluhur: Menjaga teknik tradisional yang diwariskan antargenerasi.

Meskipun pada akhir tahun 2023 Gilangharjo telah mencatat keberadaan tiga empu lokal yang aktif memproduksi bilah, tantangan utama tradisi ini tetap berada pada regenerasi berkelanjutan. Transfer pengetahuan keris tidak dapat dipelajari secara mutlak dari buku, melainkan membutuhkan praktik (learning by doing), feeling, dan kepekaan rasa terhadap logam.

Untuk menarik minat generasi muda, pendekatan yang digunakan harus diubah:

  1. Perubahan Sudut Pandang: Mengenalkan keris bukan sebagai benda Kuno/mistis semata, melainkan sebagai seni tempa, teknologi tradisional, elemen desain, identitas lokal, dan peluang ekonomi kreatif.

  2. Keseimbangan Metode: Menggunakan media sosial, fotografi, konten video serial ("Perjalanan Sepotong Besi Menjadi Keris"), serta virtual tour tanpa mengubah ruh dan teknik penempaan intinya.

Prinsip Utama: Wadah boleh modern dan mengikuti zaman, tetapi ruh tradisi jangan sampai dipindahkan.

Di akhir wawancara, Sherin mencatat lima rekomendasi prioritas untuk pengembangan Besalen Gilangharjo ke depan:

  1. Dokumentasi Sistematis: Mengarsipkan pengetahuan lisan para empu senior sebelum tergerus waktu.

  2. Kurikulum Regenerasi: Membuka kelas dasar hingga magang bagi anak muda.

  3. Menghidupkan Ruang: Menjadikan Besalen sebagai pusat kegiatan budaya harian, bukan sekadar pajangan saat ada kunjungan resmi.

  4. Ekosistem Ekonomi: Menjamin keberlanjutan hidup para empu melalui bursa, pameran, dan jaringan pasar keris.

  5. Penguatan Kelembagaan: Mengintegrasikan Besalen ke dalam masterplan pariwisata kalurahan.

"Yang perlu diwariskan dari Besalen bukan hanya bilah kerisnya, melainkan cara manusia Gilangharjo menghargai proses, menghormati pengetahuan, bekerja bersama, dan menempa masa depan tanpa memutus hubungan dengan masa lalu."