Filsuf Muda dari Tegallurung yang Mengabdikan Ilmu untuk Masyarakat

21 Juni 2026
Administrator
Dibaca 45 Kali
Filsuf Muda dari Tegallurung yang Mengabdikan Ilmu untuk Masyarakat

Gilangharjo, Di Padukuhan Tegallurung, Kalurahan Gilangharjo, sosok Felix Kris Alfian, S.Fil., M.Phil. dikenal sebagai seorang pemimpin muda yang memiliki latar belakang akademik yang tidak biasa. Di tengah kesibukannya sebagai Dukuh, pengajar, penulis, pemateri motivasi, dan MC, Felix sesungguhnya merupakan seorang pegiat filsafat yang menjadikan pemikiran kritis dan refleksi sebagai landasan dalam menjalani kehidupan serta melayani masyarakat.

Lulusan Sarjana dan Magister Filsafat ini percaya bahwa filsafat bukan sekadar ilmu yang dipelajari di ruang kuliah, melainkan cara hidup yang membantu manusia memahami dirinya sendiri, sesama, alam semesta, dan Tuhan. Cara pandang tersebut kemudian membentuk hampir seluruh aktivitas yang dijalaninya hingga saat ini.

Perjalanan intelektual Felix dimulai sejak usia muda ketika ia aktif dalam organisasi dan kemudian menempuh pendidikan di Seminari atau sekolah calon pastor selama delapan tahun. Masa pendidikan tersebut membentuk kebiasaan berpikir mendalam, menulis refleksi, berdiskusi, serta berbicara di depan umum. Kebiasaan itu terus berkembang ketika ia mendalami filsafat secara formal hingga jenjang magister.

Baginya, filsafat bukan hanya tentang menghafal teori para pemikir besar dunia seperti Plato, Aristoteles, Immanuel Kant, atau Pierre Bourdieu. Filsafat adalah seni bertanya, kemampuan mencari makna di balik setiap peristiwa, dan keberanian untuk terus belajar dari kehidupan.

"Refleksi adalah inti dari perjalanan saya. Melalui refleksi, kita mempertemukan diri dengan Tuhan, sesama manusia, alam, dan berbagai peristiwa kehidupan. Dari sanalah lahir pemahaman, kebijaksanaan, dan tindakan yang lebih baik," ungkap Felix.

Pandangan filosofis tersebut tampak jelas dalam perjalanan kariernya. Ketika menjadi penulis sejak tahun 2018, ia tidak hanya menghasilkan tulisan informatif, tetapi juga tulisan-tulisan reflektif yang mengajak pembaca melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih mendalam. Sebagian karya yang ditulisnya bahkan berkontribusi dalam pendokumentasian sejarah Gereja Ganjuran dan menjadi bagian dari arsip museum gereja tersebut.

Sebagai pengajar yang mulai aktif sejak 2019, Felix tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi juga mengajak peserta didik untuk berpikir kritis dan menemukan makna di balik setiap pengetahuan yang dipelajari. Hal yang sama terlihat ketika ia menjadi pemateri motivasi dan pelatih public speaking sejak tahun 2021. Dalam setiap sesi pelatihan, ia berusaha menanamkan kesadaran bahwa kemampuan berbicara bukan hanya soal teknik, tetapi juga tentang kemampuan memahami diri sendiri dan menyampaikan nilai-nilai yang diyakini.

Kemampuan tersebut semakin terasah ketika ia mulai aktif sebagai MC berbagai acara sejak tahun 2023. Baginya, menjadi MC bukan hanya memandu jalannya acara, tetapi juga membangun komunikasi yang bermakna antarindividu dalam sebuah pertemuan.

Di balik berbagai aktivitas tersebut, Felix tetap memandang dirinya sebagai seorang pembelajar. Ia meyakini bahwa seorang filsuf sejati tidak pernah merasa paling tahu. Justru kesadaran akan keterbatasan diri menjadi bahan bakar untuk terus mencari pengetahuan baru.

"Semakin belajar, semakin saya sadar bahwa masih banyak hal yang belum saya ketahui. Karena itu membaca, mendengar, dan berlatih harus terus dilakukan," ujarnya.

Pemikiran filsafat juga sangat memengaruhi gaya kepemimpinannya sebagai Dukuh Tegallurung. Ia menerapkan pendekatan Appreciative Inquiry, yaitu metode yang berfokus pada kekuatan dan potensi yang sudah dimiliki masyarakat daripada hanya mencari kekurangan dan masalah.

Pendekatan tersebut lahir dari keyakinannya bahwa setiap individu dan komunitas memiliki nilai yang dapat dikembangkan. Karena itu, berbagai potensi warga Tegallurung seperti kelompok karawitan, olahraga voli, kelompok tani, kelompok ternak, hingga komunitas sosial lainnya terus didorong agar berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Sebagai seorang filsuf, Felix juga memiliki pandangan menarik mengenai proses belajar. Ia terinspirasi oleh pemikiran filsuf Prancis Pierre Bourdieu yang menjelaskan bahwa seseorang dapat memiliki kekuatan dalam kehidupan melalui kapital ekonomi, kapital sosial, kapital budaya, dan kapital simbolik. Berangkat dari pemikiran tersebut, Felix memilih untuk melihat setiap orang sebagai guru yang dapat memberikan pelajaran berharga.

"Dari siapa pun kita bisa belajar. Dari masyarakat, teman, tokoh agama, akademisi, bahkan dari pengalaman sehari-hari. Semua orang membawa pengetahuan dan kebijaksanaan yang berbeda," tuturnya.

Bagi Felix, filsafat tidak boleh berhenti menjadi wacana akademik. Filsafat harus hadir dalam kehidupan masyarakat sebagai sarana membangun kesadaran, memperkuat karakter, dan membantu manusia menemukan makna hidup. Karena itulah ia terus aktif menulis, mengajar, berbicara di berbagai forum, sekaligus mengabdikan diri dalam pelayanan masyarakat.

Ke depan, ia berharap semakin banyak generasi muda Gilangharjo yang berani mengembangkan kapasitas intelektual dan keterampilannya. Menurutnya, dunia modern tidak hanya membutuhkan orang yang pandai bekerja, tetapi juga individu yang mampu berpikir kritis, reflektif, kreatif, dan memiliki karakter kuat.

Ia juga berharap Kalurahan Gilangharjo terus membuka ruang bagi pengembangan keterampilan modern seperti kepenulisan, public speaking, literasi digital, dan berbagai bidang pengembangan diri lainnya yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Sebagai penutup, Felix menyampaikan pesan yang menjadi pegangan hidupnya:

"Pilihlah cintamu, dan cintailah pilihanmu. Nemo Dat Quod Non Habet, seseorang tidak dapat memberikan apa yang tidak dimilikinya. Maka teruslah belajar, memperkaya diri, dan mengembangkan kemampuan, agar suatu saat dapat menjadi berkah bagi sesama."

Melalui perjalanan hidupnya, Felix Kris Alfian menunjukkan bahwa filsafat bukanlah ilmu yang jauh dari masyarakat. Sebaliknya, filsafat dapat menjadi kompas yang menuntun seseorang untuk berpikir lebih jernih, bertindak lebih bijaksana, dan mengabdikan diri secara lebih bermakna bagi lingkungan sekitarnya.