Penjaga Warisan Gamelan dan Karawitan: Lukas Sartono, Pencipta Gending Misa yang Menghidupkan Spiritualitas Jawa di Ganjuran
Gilangharjo, Di tengah derasnya arus modernisasi, masih ada sosok-sosok yang dengan tekun menjaga denyut budaya Jawa agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Salah satunya adalah Lukas Sartono, seorang pengrajin gamelan sekaligus seniman karawitan yang telah puluhan tahun mengabdikan diri pada pelestarian seni tradisi Jawa.
Melalui tangan terampilnya, berbagai alat musik gamelan kembali bernyawa. Mulai dari rebab, siter, tabuh gamelan, hingga berbagai perlengkapan pendukung kesenian tradisional menjadi bidang yang ditekuninya sejak tahun 1998. Keterampilan tersebut bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah warisan keluarga yang terus dijaga dan dikembangkan.
Motivasi awal Lukas Sartono menekuni bidang ini berasal dari keinginan untuk melanjutkan usaha yang telah dirintis oleh almarhum bapak dan ibunya. Dari kedua orang tuanya itulah bakat dan kecintaan terhadap seni tradisi Jawa diwariskan. Ia meyakini bahwa warisan budaya tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dirawat dan diteruskan melalui karya nyata.
Perjalanan menekuni dunia kerajinan gamelan dimulai secara lebih serius setelah dirinya memasuki masa purnatugas dari pekerjaannya di PT Aneka Tambang Emas Cikotok. Masa pensiun justru menjadi titik awal pengabdian yang lebih besar terhadap seni dan budaya Jawa. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk bekerja kini dicurahkan untuk membuat, memperbaiki, dan mengembangkan berbagai alat musik tradisional.
Dalam perjalanan berkesenian, Lukas banyak mendapatkan pengaruh dari berbagai tokoh. Untuk bidang kesenian Jawa, ia belajar dan terinspirasi dari Bapak Didik Supriyantara. Sementara keterampilan membuat dan merehabilitasi alat gamelan diperoleh dari almarhum ayah kandungnya yang telah lebih dahulu menekuni bidang tersebut.
Berkat ketekunan dan pengalaman yang terus diasah, Lukas dikenal memiliki keahlian khusus dalam pembuatan dan rehabilitasi alat musik tradisional seperti siter, rebab, dan tabuh gamelan. Kemampuannya tersebut berkembang relatif cepat karena selain belajar secara langsung dari orang tua, ia juga memiliki bakat seni yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan dalam perjalanan berkaryanya adalah ketika menerima banyak pesanan dari Pulau Bali. Tidak hanya membuat perlengkapan gamelan, ia juga dipercaya memproduksi berbagai kerajinan berbahan dasar kayu kelapa seperti piring, mangkuk, dan perlengkapan seni lainnya. Pesanan dari luar daerah tersebut menjadi bukti bahwa kualitas hasil karyanya mampu diterima oleh masyarakat yang memiliki tradisi seni dan budaya yang kuat.
Selain dikenal sebagai pengrajin gamelan, Lukas Sartono juga aktif sebagai pelaku seni karawitan. Baginya, seni tidak hanya sebatas menghasilkan karya, tetapi juga menjadi sarana membangun hubungan sosial dan mempererat tali persaudaraan antarwarga. Melalui berbagai kegiatan kesenian, ia merasakan manfaat besar berupa terjalinnya silaturahmi yang erat di tengah masyarakat.
Kecintaannya terhadap seni Jawa juga diwujudkan melalui pengabdian panjang di lingkungan Gereja HKTY Ganjuran. Salah satu pencapaian yang paling membanggakan baginya adalah keterlibatannya sebagai seniman gereja sejak tahun 2008 hingga 2023. Selama kurun waktu tersebut, hampir setiap bulan ia mendapat kepercayaan untuk menciptakan lagu-lagu bernuansa Jawa yang bersumber dari ayat-ayat Kitab Suci.
Ayat-ayat tersebut kemudian diolah menjadi komposisi musik berbentuk ketawang dengan laras pelog lengkap dengan notasi gamelan dan notasi diatonis paduan suara. Karya-karya tersebut digunakan untuk mengiringi perayaan misa di Gereja Ganjuran, sebuah gereja yang dikenal luas karena keberhasilannya memadukan nilai-nilai Kristiani dengan budaya Jawa.
Kontribusi tersebut menjadi bukti bahwa seni tradisi mampu beradaptasi dan hadir dalam berbagai ruang kehidupan masyarakat tanpa kehilangan identitasnya. Melalui karya-karyanya, Lukas menunjukkan bahwa gamelan dan karawitan bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi media ekspresi spiritual dan budaya yang relevan hingga saat ini.
Menurut Lukas, perkembangan seni tradisi di Kalurahan Gilangharjo saat ini menunjukkan kemajuan yang menggembirakan. Berbagai kelompok seni dan budaya mulai bermunculan di banyak padukuhan. Hal tersebut menjadi pertanda bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal.
Sebagai seniman, ia turut mengambil peran dalam berbagai kegiatan pameran maupun pertunjukan seni ketika terdapat kesempatan dan agenda budaya di tingkat kalurahan maupun wilayah yang lebih luas. Baginya, setiap kegiatan seni adalah ruang untuk memperkenalkan sekaligus menjaga keberlangsungan budaya Jawa.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan besar dalam upaya pelestarian budaya, terutama dalam mengajak generasi muda untuk terlibat aktif dalam kegiatan seni tradisional. Perubahan gaya hidup dan derasnya pengaruh budaya luar sering kali membuat minat terhadap kesenian tradisional berkurang.
Karena itu, Lukas berharap semakin banyak dukungan bagi pelestarian seni budaya, baik melalui kegiatan pembinaan, pelatihan, pementasan, maupun ruang-ruang kreatif yang dapat menarik minat generasi muda. Ia juga berharap seluruh kegiatan seni dan budaya yang ada di Kalurahan Gilangharjo dapat terus berkembang dan semakin maju di masa mendatang.
Kepada generasi muda, Lukas menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna.
"Mari kita giatkan berkesenian Jawa agar tidak tergantikan oleh budaya luar. Kesenian Jawa adalah warisan adiluhung yang harus dijaga, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya."
Melalui dedikasi yang telah dijalani selama puluhan tahun, Lukas Sartono tidak hanya menjadi seorang pengrajin gamelan dan seniman karawitan. Ia adalah penjaga warisan budaya, penghubung antargenerasi, dan salah satu sosok yang terus menjaga agar suara gamelan tetap bergema di tengah kehidupan masyarakat Gilangharjo.