Menyusuri Padukuhan dan Merangkul Pasien, Perjuangan Volunteer TBC Gilangharjo Melawan Stigma dan Penularan
GILANGHARJO – Upaya penanggulangan Tuberkulosis (TBC) tidak hanya berlangsung di ruang pemeriksaan atau fasilitas kesehatan. Di tengah masyarakat, ada peran para volunteer yang bergerak dari satu padukuhan ke padukuhan lain untuk menemukan kemungkinan penularan, mendampingi pasien, sekaligus memberikan edukasi kepada warga. Di Kalurahan Gilangharjo, peran tersebut dijalankan oleh volunteer TBC, RR Indhah Wahyuningsih.
Bersama tim Puskesmas Pandak 1, termasuk programmer TBC dan tenaga dokter, Indhah aktif melakukan penelusuran ke sejumlah padukuhan di wilayah Gilangharjo. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mendukung eliminasi TBC melalui Investigasi Kontak (IK), yakni penelusuran terhadap orang-orang yang memiliki riwayat kontak langsung maupun kontak erat dengan pasien TBC.
Investigasi Kontak menjadi salah satu langkah penting dalam menemukan kemungkinan kasus baru. Ketika seseorang terdiagnosis TBC, keluarga dan orang-orang yang sering berinteraksi dengannya perlu mendapatkan perhatian melalui pemeriksaan kesehatan. Dengan demikian, apabila ditemukan indikasi penularan, penanganan dapat dilakukan lebih awal.
Namun, tugas volunteer tidak berhenti pada penelusuran dan mengajak warga melakukan pemeriksaan. Ada tantangan lain yang tidak kalah penting, yakni membangun pemahaman masyarakat agar tidak memberikan stigma negatif kepada penderita TBC.
Indhah mengingatkan bahwa pasien TBC tidak seharusnya dijauhi, dihakimi, apalagi dikucilkan. Menurutnya, keluarga dan lingkungan sekitar justru perlu hadir memberikan dukungan agar pasien tetap memiliki semangat untuk menjalani pengobatan sampai tuntas.
Ia memahami bahwa TBC merupakan penyakit menular sehingga langkah pencegahan tetap harus dilakukan. Penggunaan masker, penerapan etika batuk, serta mengikuti anjuran tenaga kesehatan merupakan bagian dari upaya melindungi diri dan orang lain. Namun, tindakan pencegahan tersebut tidak boleh berubah menjadi perlakuan diskriminatif terhadap pasien.
Salah satu hal yang dikhawatirkan adalah ketika pasien merasa dikucilkan sehingga kehilangan semangat untuk menjalani pengobatan. Padahal, pengobatan TBC harus dilakukan secara teratur sesuai petunjuk tenaga medis. Pengobatan yang terputus atau tidak tuntas dapat meningkatkan risiko terjadinya resistansi obat atau TBC RO (Resistan Obat), yaitu kondisi ketika bakteri TBC tidak lagi merespons obat-obatan tertentu sehingga membutuhkan penanganan yang lebih kompleks.
Indhah juga mengajak masyarakat untuk memahami bahwa pengobatan TBC tersedia secara gratis melalui fasilitas pelayanan kesehatan. Banyak pasien yang berhasil sembuh setelah menjalani pengobatan secara disiplin dan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Karena itu, apabila terdapat anggota keluarga, tetangga, atau warga sekitar yang sedang menjalani pengobatan TBC, masyarakat diharapkan tidak menjauhkan mereka. Dukungan sederhana berupa perhatian, motivasi, dan pengingat untuk rutin minum obat dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan pengobatan pasien.
Perjuangan volunteer TBC di Gilangharjo menunjukkan bahwa penanggulangan penyakit ini membutuhkan lebih dari sekadar pemeriksaan medis. Diperlukan kepedulian sosial, keterlibatan keluarga, dukungan lingkungan, serta kerja sama berkelanjutan antara masyarakat dan tenaga kesehatan.
Melalui kegiatan investigasi kontak dan pendampingan di tingkat padukuhan, volunteer menjadi penghubung antara masyarakat dengan layanan kesehatan. Mereka hadir untuk membantu menemukan kemungkinan kasus, mengajak warga memeriksakan diri, serta memastikan pasien tidak kehilangan dukungan selama menjalani pengobatan.
Melawan TBC bukan dengan menjauhi penderitanya, melainkan dengan mencegah penularannya, mendukung pengobatannya, dan merangkul mereka agar dapat sembuh.