Peluncuran Angkringan dan Coffee Dewi Kajii: Ikhtiar Wisata Lokal Menggerakkan Ekonomi Berbasis Komunitas
Gilangharjo — Upaya menghidupkan potensi wisata berbasis masyarakat kembali ditandai dengan peluncuran Angkringan dan Coffee Dewi Kajii yang berlokasi di Meeting Point Dewi Kajii, Kadisoro RT 04, Gilangharjo, pada Minggu sore, 8 Februari 2026. Kegiatan ini tidak sekadar seremoni pembukaan usaha kuliner, tetapi menjadi bagian dari langkah strategis untuk memperkuat ekonomi lokal melalui pengembangan wisata terpadu berbasis potensi warga.
Acara launching dihadiri sejumlah tokoh dan pejabat, di antaranya Lurah dan jajaran pamong Kalurahan Gilangharjo, Panewu Pandak, Kepala Dinas Pariwisata, perwakilan Dinas Dikpora dan Dinas Dukcapil Kabupaten Bantul yang juga merupakan warga Gilangharjo, anggota DPRD DIY Andriana Wulandari, serta tokoh masyarakat dan warga Kadisoro. Kehadiran lintas unsur pemerintahan dan masyarakat tersebut menunjukkan dukungan bersama terhadap pengembangan kawasan Dewi Kajii sebagai ruang ekonomi baru di tingkat kalurahan.
Selain peluncuran angkringan, kegiatan ini juga dirangkai dengan penyerahan simbolis bantuan dari Kalurahan Gilangharjo kepada pengelola wisata Dewi Kajii. Bantuan dari dana keistimewaan tersebut berupa kolam ikan berbahan GRC yang diperuntukkan bagi para pembudidaya ikan hias, serta mesin roasting kopi untuk mendukung pengembangan sajian kopi di Angkringan Dewi Kajii agar memiliki kualitas dan standar yang lebih baik.
Secara ekonomi, langkah ini dapat dibaca sebagai upaya menciptakan ekosistem usaha kecil yang terintegrasi. Kolam ikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendukung estetika kawasan wisata, tetapi juga membuka peluang usaha bagi warga yang menekuni budidaya ikan hias. Sementara mesin roasting kopi menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan nilai tambah produk kopi, dari sekadar penyajian menjadi pengolahan yang lebih mandiri dan berkualitas.
Angkringan, yang selama ini dikenal sebagai ruang ekonomi rakyat dengan modal relatif kecil, diangkat menjadi bagian dari strategi pengembangan wisata. Kehadiran menu kopi dengan standar lebih tinggi diharapkan mampu menarik minat pengunjung dari berbagai kalangan, sekaligus meningkatkan daya saing kawasan Dewi Kajii sebagai destinasi alternatif di Gilangharjo.
Namun di balik optimisme tersebut, terdapat catatan penting dalam perspektif ekonomi kritis. Peluncuran fasilitas dan bantuan peralatan merupakan langkah awal yang baik, tetapi keberlanjutan usaha tetap bergantung pada kapasitas pengelola, konsistensi inovasi, serta kemampuan membaca pasar. Tanpa manajemen yang kuat, fasilitas yang diberikan berpotensi hanya menjadi simbol pembangunan tanpa dampak ekonomi yang signifikan dalam jangka panjang.
Pengembangan angkringan berbasis wisata juga memerlukan strategi yang lebih luas, mulai dari promosi, penguatan jaringan pemasaran, hingga pelibatan aktif masyarakat sekitar sebagai pelaku ekonomi. Jika dikelola secara kolektif, angkringan ini dapat menjadi titik temu berbagai potensi lokal, mulai dari kopi, kuliner tradisional, hingga produk UMKM warga.
Dalam konteks lokal, kehadiran Angkringan dan Coffee Dewi Kajii memiliki arti penting sebagai ruang ekonomi baru yang tumbuh dari masyarakat. Ia bukan hanya tempat makan dan berkumpul, tetapi juga menjadi simbol kemandirian ekonomi yang dibangun dari potensi yang ada di lingkungan sendiri.
Dengan dukungan pemerintah kalurahan, kehadiran tokoh daerah, serta partisipasi masyarakat, launching ini menjadi penanda bahwa pengembangan wisata desa tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Justru dari ruang-ruang kecil seperti angkringan, roda ekonomi dapat bergerak perlahan, menciptakan peluang usaha, dan memperkuat identitas kawasan sebagai destinasi berbasis komunitas.