Bregada Wiratamtama Gilangharjo Meriahkan Hari Jadi ke-80, Lestarikan Tradisi Caos Dahar ke Makam Nglipuro dan Petilasan Selo Gilang
GILANGHARJO – Bregada Wiratamtama Gilangharjo turut memeriahkan rangkaian peringatan Hari Jadi ke-80 Kalurahan Gilangharjo pada Selasa, 13 Oktober 2026, dengan membawa jodhang menuju Makam Nglipuro dan Petilasan Selo Gilang. Prosesi ini menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi dan kearifan lokal melalui ritual caos dahar, yakni penyerahan hidangan kepada juru kunci sebagai bagian dari rangkaian doa dan ungkapan rasa syukur demi kebaikan Kalurahan Gilangharjo.
Arak-arakan jodhang dipimpin oleh Dukuh Kauman, Dwi Santosa, bersama Bregada Wiratamtama Gilangharjo. Dengan membawa jodhang menuju dua lokasi yang memiliki nilai historis dan kultural bagi masyarakat setempat, rombongan turut menghadirkan nuansa tradisi Jawa dalam peringatan hari jadi kalurahan yang telah memasuki usia delapan dekade.
Jodhang yang dibawa dalam prosesi tersebut menjadi bagian penting dari pelaksanaan tradisi caos dahar. Dalam konteks budaya Jawa, istilah caos dahar merujuk pada penyerahan hidangan sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan rasa syukur. Dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Gilangharjo, prosesi ini juga menjadi sarana untuk memanjatkan doa dan harapan bagi keselamatan, ketenteraman, serta kemajuan kalurahan.
Setibanya di Makam Nglipuro dan Petilasan Selo Gilang, hidangan diserahkan kepada juru kunci yang berperan menjaga dan merawat lokasi tersebut. Para juru kunci kemudian turut mendoakan kebaikan bagi Kalurahan Gilangharjo dan masyarakatnya. Prosesi ini memperlihatkan keterhubungan antara tradisi, penghormatan terhadap tempat bersejarah, serta harapan masyarakat terhadap keberlangsungan kehidupan bersama.
Keikutsertaan Bregada Wiratamtama Gilangharjo memberikan warna tersendiri dalam rangkaian peringatan hari jadi. Bregada, sebagai kelompok yang membawa identitas dan nuansa tradisi, tidak hanya hadir untuk memeriahkan acara, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Sementara itu, kepemimpinan Dukuh Kauman, Dwi Santosa, dalam arak-arakan jodhang menunjukkan keterlibatan unsur kewilayahan dalam menjaga keberlangsungan tradisi masyarakat. Peran dukuh dan kelompok budaya menjadi penting dalam menghubungkan penyelenggaraan pemerintahan kalurahan dengan nilai-nilai sosial dan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.
Peringatan Hari Jadi ke-80 Kalurahan Gilangharjo menjadi momentum untuk mengenang perjalanan sejarah sekaligus memperkuat identitas budaya lokal. Melalui kegiatan seperti caos dahar, masyarakat tidak hanya merayakan bertambahnya usia kalurahan, tetapi juga merawat ingatan kolektif, menghormati peninggalan sejarah, serta menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Tradisi tersebut juga mengingatkan bahwa pembangunan kalurahan tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik dan pelayanan pemerintahan. Pelestarian budaya, penghormatan terhadap sejarah lokal, serta penguatan kebersamaan masyarakat merupakan bagian penting dalam membangun identitas Gilangharjo yang berakar pada kearifan lokal.
Melalui partisipasi Bregada Wiratamtama Gilangharjo dalam prosesi arak-arakan jodhang dan caos dahar ini, rangkaian Hari Jadi ke-80 Kalurahan Gilangharjo menjadi ruang untuk mempertemukan semangat pelestarian budaya dengan doa dan harapan bagi masa depan. Tradisi yang terus dijaga diharapkan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat serta diwariskan kepada generasi mendatang sebagai salah satu kekayaan budaya Gilangharjo.