Dinas Sosial DIY Gelar Sarasehan Restorasi Sosial di Balai Budaya Gilangharjo, Perkuat Nilai Kesetiakawanan Berbasis Budaya Jawa
Gilangharjo – Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan Sarasehan Penguatan Nilai-nilai Kesetiakawanan melalui Restorasi Sosial "Berbasis Budaya Jawa Mewujudkan Kesejahteraan Sosial" pada Selasa (4/8/2026) di Balai Budaya Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai sosial di tengah masyarakat melalui pendekatan budaya lokal yang telah lama menjadi identitas masyarakat Yogyakarta.
Sarasehan dihadiri oleh berbagai unsur pemerintah, lembaga kemasyarakatan, serta tokoh masyarakat. Hadir mewakili Kepala Dinas Sosial DIY, Sapto Parjono, S.Pd., M.M. selaku Subkoordinator K3KRS Dinas Sosial DIY. Turut hadir Panewu Pandak, Kapolsek Pandak, Danramil Pandak, Lurah Gilangharjo beserta jajaran, perangkat kalurahan, anggota Badan Permusyawaratan Kalurahan (Bamuskal), Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan (LKMKal), Tim Penggerak PKK, Karang Taruna, pilar-pilar sosial, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, serta berbagai unsur kemasyarakatan lainnya.
Kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan dari penyelenggara yang menekankan pentingnya menjaga semangat gotong royong, kepedulian sosial, serta solidaritas masyarakat sebagai fondasi pembangunan sosial. Restorasi sosial dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi berbagai tantangan sosial yang berkembang di era modern.
Sarasehan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang yang memberikan perspektif mengenai pembangunan sosial berbasis budaya. Materi pertama disampaikan oleh H. Sigit Nursyam Priyanto, S.Si., M.Ec.Dev., Anggota Komisi A DPRD DIY dari Fraksi PKS, yang mengulas pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam memperkuat nilai-nilai kebersamaan sebagai modal sosial pembangunan.
Selanjutnya, KRT. Dr. Ir. Arif Bintoro Johan, M.Pd., MCE., MCF. (Ki Abeje Janoko) dari Universitas Taman Siswa Yogyakarta memaparkan bagaimana filosofi dan nilai-nilai luhur budaya Jawa dapat menjadi pedoman dalam membangun masyarakat yang harmonis, toleran, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Menurutnya, budaya Jawa mengandung ajaran yang relevan dalam membentuk karakter masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan dan musyawarah.
Materi berikutnya disampaikan oleh Maya Kartika Sari, S.Sos., M.Sc., Penyuluh Sosial Ahli Pertama Dinas Sosial DIY, yang menjelaskan konsep restorasi sosial sebagai gerakan membangun kembali semangat solidaritas masyarakat melalui partisipasi aktif seluruh elemen. Ia menegaskan bahwa keberhasilan program kesejahteraan sosial tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga memerlukan keterlibatan masyarakat secara luas.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan masukan dari peserta. Beragam pengalaman serta praktik baik dalam membangun kepedulian sosial di tingkat kalurahan turut dibagikan, sehingga menjadi ruang pembelajaran bersama dalam memperkuat jejaring sosial masyarakat.
Selain penyampaian materi, kegiatan juga dimeriahkan oleh penampilan Grup Campursari Purbo Laras GK yang membawakan sejumlah lagu bernuansa budaya Jawa. Penampilan tersebut semakin menguatkan pesan bahwa seni dan budaya dapat menjadi media efektif dalam menanamkan nilai-nilai kesetiakawanan, kebersamaan, serta pelestarian kearifan lokal.
Melalui penyelenggaraan sarasehan ini, Dinas Sosial DIY berharap nilai-nilai gotong royong, kepedulian, toleransi, dan solidaritas sosial dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Dengan menjadikan budaya Jawa sebagai landasan restorasi sosial, diharapkan terwujud masyarakat yang semakin harmonis, tangguh, dan sejahtera, sekaligus mampu menjaga warisan budaya sebagai perekat kehidupan sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di Kalurahan Gilangharjo.