Sarasehan Hari Jadi Kabupaten Bantul ke-195 di Kapanewon Pandak Angkat Sejarah Petilasan Selo Gilang Lipuro sebagai Ikon Kalurahan Gilangharjo
Pandak – Kapanewon Pandak menyelenggarakan Sarasehan Tingkat Kapanewon Pandak dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Bantul ke-195 Tahun 2026 pada Jumat (17/7/2026) di Pendopo Kapanewon Pandak. Kegiatan yang mengusung tema "Selo Gilang sebagai Tempat Berdirinya Kesultanan Mataram Islam" ini dihadiri oleh unsur Forkopimkap Pandak, pemerintah kalurahan se-Kapanewon Pandak, tokoh masyarakat, lembaga kemasyarakatan, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Sebelas Maret (UNS).
Sarasehan menjadi ruang bersama untuk menggali dan menguatkan kembali pemahaman masyarakat terhadap sejarah lokal yang memiliki nilai strategis bagi Kabupaten Bantul, khususnya wilayah Kapanewon Pandak. Melalui forum tersebut, para peserta diajak menelusuri perjalanan sejarah yang melatarbelakangi lahirnya Kesultanan Mataram Islam sekaligus memahami pentingnya pelestarian situs-situs bersejarah yang masih ada hingga saat ini.
Dalam kesempatan tersebut, Jagabaya Kalurahan Gilangharjo, Supriyanta, S.E., hadir sebagai narasumber yang memedhar khasanah pengetahuan sejarah mengenai Petilasan Selo Gilang Lipuro, sebuah situs bersejarah yang kini menjadi salah satu ikon Kalurahan Gilangharjo. Dengan pemaparan yang didasarkan pada berbagai sumber sejarah, cerita tutur masyarakat, serta kajian mengenai perjalanan Mataram Islam, Supriyanta mengajak peserta memahami posisi strategis Selo Gilang dalam sejarah perkembangan pemerintahan di tanah Jawa.
Beliau menjelaskan bahwa Petilasan Selo Gilang Lipuro bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan simbol perjalanan panjang lahirnya peradaban dan pemerintahan Mataram Islam yang memiliki keterkaitan erat dengan wilayah Pandak. Nilai historis tersebut menjadi aset budaya yang patut dijaga, dilestarikan, dan dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas Kalurahan Gilangharjo.
Selain mengulas aspek sejarah, Supriyanta juga menekankan pentingnya mengembangkan Petilasan Selo Gilang Lipuro sebagai pusat edukasi sejarah dan wisata budaya. Menurutnya, pelestarian situs sejarah harus berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan literasi masyarakat terhadap sejarah lokal sehingga keberadaan situs tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran dan kebanggaan bersama.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang jalannya sarasehan. Berbagai pertanyaan dan diskusi berkembang mengenai sejarah Mataram Islam, asal-usul Selo Gilang, hingga peluang pengembangan kawasan sebagai destinasi wisata berbasis sejarah dan budaya. Diskusi tersebut menunjukkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap pelestarian warisan budaya yang dimiliki Kapanewon Pandak.
Melalui penyelenggaraan sarasehan ini, Kapanewon Pandak berharap semangat memperingati Hari Jadi Kabupaten Bantul ke-195 tidak hanya diwujudkan dalam kegiatan seremonial, tetapi juga melalui penguatan wawasan sejarah dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Dengan memahami sejarah Petilasan Selo Gilang Lipuro sebagai salah satu ikon Kalurahan Gilangharjo, diharapkan masyarakat semakin memiliki rasa bangga, kepedulian, dan tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur sebagai bagian dari identitas daerah yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.