Program Mocopat Radio Swaka Gilangharjo Jadi Ruang Ekspresi Seni dan Suara Sosial Budaya Masyarakat
Gilangharjo, Upaya pelestarian budaya Jawa terus dilakukan berbagai elemen masyarakat di Kalurahan Gilangharjo. Salah satunya melalui program “Mocopat” yang rutin diselenggarakan oleh Radio Swaka Gilangharjo setiap malam Rabu. Program tersebut menjadi ruang berkumpul para pegiat seni dan budaya dari wilayah Gilangharjo maupun daerah sekitar untuk bersama-sama melestarikan tradisi tembang macapat dalam suasana akrab dan penuh nilai budaya.
Kegiatan mocopat yang disiarkan secara rutin tersebut tidak hanya menghadirkan pembacaan atau tembang macapat dalam bentuk klasik, namun juga membuka ruang kreativitas bagi para seniman untuk menghadirkan cakepan atau lirik gubahan yang disesuaikan dengan perkembangan sosial di masyarakat. Tradisi lama dipadukan dengan isu-isu kekinian sehingga membuat macapat tetap relevan dan dekat dengan kehidupan masyarakat modern.
Setiap pelaksanaan program, para pegiat seni budaya berkumpul di studio Radio Swaka Gilangharjo untuk bergantian menembangkan berbagai jenis macapat seperti Dhandhanggula, Pangkur, Sinom, Kinanthi, Maskumambang, hingga Gambuh. Tembang-tembang tersebut dibawakan dengan penuh penghayatan oleh para pelaku seni yang sebagian besar telah lama aktif dalam kegiatan budaya masyarakat.
Menariknya, selain menggunakan cakepan asli yang sarat nilai filosofi Jawa, sejumlah seniman juga mulai menghadirkan lirik-lirik gubahan yang memuat kritik sosial, keresahan masyarakat, hingga pandangan para seniman terhadap kondisi sosial yang sedang berkembang. Tema-tema seperti budaya gotong royong yang mulai memudar, kondisi ekonomi masyarakat, perubahan perilaku generasi muda, hingga dinamika sosial pedesaan sering muncul dalam syair yang dibawakan.
Pendekatan tersebut membuat program mocopat tidak sekadar menjadi pertunjukan budaya, namun juga ruang refleksi sosial masyarakat. Melalui tembang dan sastra Jawa, para seniman menyampaikan gagasan serta kritik dengan cara yang halus, estetis, dan tetap mengakar pada budaya lokal.
Pengelola Radio Swaka Gilangharjo menyampaikan bahwa program mocopat sengaja dibuat terbuka bagi seluruh pegiat budaya yang ingin berpartisipasi. Selain sebagai sarana pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi media silaturahmi antar seniman dan komunitas budaya di wilayah Gilangharjo dan sekitarnya.
“Macapat itu bukan hanya seni suara, tetapi juga media penyampai pesan kehidupan. Karena itu kami memberi ruang bagi para seniman untuk tetap kreatif, termasuk menghadirkan gubahan yang dekat dengan kondisi masyarakat saat ini,” ujar salah satu pengelola program.
Suasana kegiatan biasanya berlangsung sederhana namun penuh nuansa kekeluargaan. Para peserta duduk bersama sambil bergantian menembangkan macapat diiringi diskusi santai tentang budaya, kehidupan sosial, dan perkembangan kesenian Jawa di tengah arus modernisasi.
Program tersebut juga mendapat perhatian masyarakat karena dinilai mampu menjaga eksistensi budaya lokal di tengah semakin berkurangnya ruang pertunjukan seni tradisional. Kehadiran radio komunitas seperti Swaka Gilangharjo menjadi salah satu media penting dalam menjaga kesinambungan budaya berbasis masyarakat.
Bagi sebagian pegiat budaya, mocopat bukan hanya soal mempertahankan tradisi lama, tetapi juga upaya menjaga cara berpikir dan nilai-nilai Jawa yang penuh tata krama, kritik halus, serta pesan moral kehidupan. Melalui tembang, masyarakat diajak memahami kehidupan dengan pendekatan budaya yang lebih membumi dan reflektif.
Di sisi lain, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan ini juga mulai terlihat. Beberapa anak muda mulai tertarik mengikuti dan mempelajari macapat, terutama ketika syair-syair gubahan mulai mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini menjadi sinyal positif bahwa budaya tradisional masih memiliki ruang untuk berkembang apabila mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Melalui program mocopat rutin setiap malam Rabu ini, Radio Swaka Gilangharjo tidak hanya menjadi media penyiaran komunitas, tetapi juga tumbuh sebagai ruang budaya yang hidup di tengah masyarakat. Tradisi macapat pun terus dijaga, dirawat, dan dikembangkan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa yang tetap relevan hingga hari ini.