KWT Nusa Indah Bongsren Kembangkan Pembibitan Jahe Merah dan Tanaman Obat, Dorong Pertanian Organik Berbasis Pekarangan
Gilangharjo, Semangat pemberdayaan masyarakat melalui kelompok wanita tani terus tumbuh di Kalurahan Gilangharjo. Kali ini, Kelompok Wanita Tani (KWT) Nusa Indah Padukuhan Bongsren kembali melaksanakan kegiatan pengembangan demplot pertanian dengan fokus pada pembibitan jahe merah dan berbagai tanaman obat keluarga (TOGA) pada Minggu pagi, 10 Mei 2026. Kegiatan dilaksanakan di area demplot dan lingkungan tanam KWT Nusa Indah yang berada di wilayah Padukuhan Bongsren.
Kegiatan tersebut menjadi langkah lanjutan KWT Nusa Indah dalam mengembangkan pertanian berbasis pekarangan dan tanaman produktif yang memiliki nilai kesehatan maupun nilai ekonomi bagi masyarakat. Jika sebelumnya kelompok ini dikenal aktif dalam pengolahan hasil pertanian dan pengembangan pupuk organik mandiri, kali ini fokus kegiatan diarahkan pada penguatan sektor pembibitan tanaman herbal dan perbaikan media tanam menggunakan pupuk organik.
Sejak pagi hari, anggota KWT tampak bergotong royong melakukan penataan area tanam, membersihkan lahan, memperbaiki bedengan, serta menyiapkan media tanam yang dicampur menggunakan pupuk organik hasil olahan mandiri kelompok. Suasana kebersamaan terlihat begitu kuat di antara anggota yang secara aktif terlibat dalam setiap tahapan kegiatan.
Pembibitan jahe merah menjadi salah satu fokus utama karena tanaman tersebut dinilai memiliki potensi yang cukup baik baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi. Selain jahe merah, anggota kelompok juga menanam berbagai tanaman obat lain seperti kunyit, kencur, serai, temulawak, dan beberapa jenis tanaman herbal yang umum dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan minuman tradisional maupun kebutuhan kesehatan keluarga.
Ketua KWT Nusa Indah, Dra. Wiwik Kurniati menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kelompok dalam menjaga keberlanjutan pertanian rumah tangga sekaligus meningkatkan pemanfaatan lahan pekarangan agar lebih produktif. Menurutnya, tanaman obat memiliki prospek yang cukup baik karena kebutuhan masyarakat terhadap bahan herbal alami terus meningkat.
“Tanaman obat ini selain bermanfaat untuk kesehatan keluarga juga bisa menjadi tambahan penghasilan apabila dikelola dengan baik. Kami mencoba memulai dari pembibitan agar nantinya bisa dikembangkan lebih luas oleh anggota,” ujarnya.
Selain pembibitan, kegiatan juga difokuskan pada perbaikan kualitas media tanam dengan memanfaatkan pupuk organik. Penggunaan pupuk organik dilakukan sebagai bentuk penerapan pertanian ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Langkah tersebut juga sejalan dengan kegiatan sebelumnya yang pernah dilakukan KWT Nusa Indah dalam memproduksi pupuk organik secara mandiri untuk kebutuhan kelompok maupun masyarakat sekitar.
Pupuk organik yang digunakan berasal dari pengolahan bahan alami dan limbah organik yang difermentasi secara mandiri oleh anggota kelompok. Selain digunakan untuk kebutuhan demplot, pupuk tersebut juga mulai dimanfaatkan warga sekitar yang memiliki tanaman pekarangan di rumah masing-masing.
Dari sisi pemberdayaan masyarakat, kegiatan seperti ini tidak hanya berdampak pada sektor pertanian semata, tetapi juga memperkuat peran perempuan dalam pembangunan ekonomi keluarga dan lingkungan. KWT menjadi ruang bersama bagi para ibu rumah tangga untuk belajar, berproduksi, dan membangun kemandirian berbasis potensi lokal.
Pengembangan tanaman obat keluarga juga dinilai relevan dengan upaya membangun ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat di tingkat padukuhan. Dengan semakin banyak warga yang menanam tanaman herbal di lingkungan rumah, kebutuhan bahan alami untuk konsumsi keluarga dapat lebih mudah dipenuhi secara mandiri.
Selain itu, keberadaan demplot KWT juga memiliki fungsi edukatif bagi masyarakat sekitar. Area tanam yang dikelola kelompok sering menjadi tempat belajar bersama terkait pengolahan lahan, penggunaan pupuk organik, hingga pemanfaatan tanaman herbal dalam kehidupan sehari-hari. Model pertanian sederhana berbasis komunitas seperti ini dinilai efektif untuk mendorong partisipasi warga dalam menjaga lingkungan dan ketahanan pangan keluarga.
Kegiatan berlangsung dengan suasana penuh semangat dan kebersamaan. Para anggota saling berbagi tugas mulai dari menyiapkan bibit, mencampur pupuk organik, menata polybag, hingga melakukan penanaman langsung di area demplot. Gotong royong yang terbangun menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan kegiatan kelompok.
Melalui kegiatan pembibitan jahe merah dan tanaman obat ini, KWT Nusa Indah Bongsren berharap dapat terus berkembang menjadi kelompok tani perempuan yang aktif, mandiri, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Tidak hanya dalam aspek ekonomi, namun juga dalam membangun budaya hidup sehat dan kepedulian terhadap lingkungan berbasis potensi lokal padukuhan.