Jamasan Selo Gilang 2026: Menjaga Jejak Wahyu Mataram di Bumi Gilangharjo

17 Februari 2026
Wartawan Kalurahan
Dibaca 12 Kali
Jamasan Selo Gilang 2026: Menjaga Jejak Wahyu Mataram di Bumi Gilangharjo

Gilangharjo, Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Padukuhan Kauman, Kalurahan Gilangharjo, kembali menggelar tradisi tahunan Jamasan Selo Gilang, Selasa (17/2/2026) sore. Upacara adat ini merupakan ritual penyucian batu petilasan yang diyakini sebagai tempat Panembahan Senopati atau Danang Sutawijaya menerima wahyu untuk mendirikan Mataram Islam.

Prosesi sakral tersebut dilaksanakan di Petilasan Selo Gilang Lipuro dan diikuti oleh juru kunci, tokoh masyarakat, pemuda, hingga warga setempat. Tradisi ini tidak sekadar menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga simbol penghormatan terhadap leluhur dan upaya merawat warisan sejarah yang berakar kuat di tanah Bantul.

Jamasan secara harfiah berarti penyucian atau pembersihan benda pusaka. Dalam konteks Selo Gilang, batu yang dipercaya sebagai “Batu Gilang” dibersihkan secara bersama-sama menggunakan air suci. Air tersebut diambil dari sumber mata air sumur yang berada di depan area petilasan melalui prosesi ngungsu toya suci.

Pengambilan air kerap melibatkan warga yang dianggap telah suci secara lahir dan batin, termasuk para sesepuh dan perempuan yang telah menopause. Hal ini mencerminkan filosofi Jawa tentang kesucian, kebersihan niat, serta harmoni antara manusia dan alam.

Setelah prosesi pembersihan, acara dilanjutkan dengan doa bersama. Lantunan doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan dan keberkahan menjelang Ramadan. Suasana khidmat terasa menyelimuti area petilasan, memperkuat nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.

Situs Selo Gilang memiliki posisi penting dalam sejarah peradaban Jawa. Tempat ini berada di bawah pengawasan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan dirawat oleh para abdi dalem. Keberadaannya menjadi bukti bahwa wilayah Bantul, khususnya Gilangharjo, merupakan bagian dari jejak awal berdirinya Mataram Islam.

Secara historis, Panembahan Senopati diyakini bertapa di kawasan ini sebelum memperoleh wahyu kepemimpinan. Oleh sebab itu, Jamasan Selo Gilang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga mengandung nilai historis yang memperkuat identitas kultural masyarakat setempat.

Lebih dari sekadar ritual, tradisi ini menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. Anak-anak dan remaja yang turut hadir dapat belajar langsung tentang sejarah, nilai spiritual, serta filosofi budaya Jawa yang sarat makna.

Pelestarian tradisi seperti Jamasan Selo Gilang menunjukkan bahwa masyarakat Gilangharjo tidak sekadar menjaga situs fisik, tetapi juga merawat ingatan kolektif dan nilai adiluhung yang menyertainya.

Di tengah arus modernisasi, ritual tahunan ini menjadi pengingat bahwa akar sejarah dan budaya tetap menjadi fondasi penting bagi kehidupan masyarakat. Jamasan Selo Gilang bukan hanya peristiwa seremonial, melainkan wujud nyata komitmen warga Gilangharjo dalam menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan bermakna lintas generasi.