Peringati Hari Jadi ke-80, Pamong Gilangharjo Ziarah ke Lebih dari 70 Makam Leluhur dan Pendahulu
GILANGHARJO – Menjelang peringatan Hari Jadi ke-80 Kalurahan Gilangharjo, Pemerintah Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, menggelar ziarah ke makam para lurah, pamong, tokoh masyarakat, dan pendahulu yang telah berjasa dalam perjalanan pemerintahan desa. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis, 8 Oktober 2026, ini menjadi bentuk penghormatan terhadap generasi terdahulu sekaligus momentum untuk menelusuri kembali jejak sejarah Gilangharjo.
Ziarah diikuti jajaran Pemerintah Kalurahan Gilangharjo, Badan Permusyawaratan Kalurahan (Bamuskal), staf, para dukuh, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas. Untuk menjangkau makam yang tersebar di berbagai lokasi, peserta dibagi menjadi tiga tim berdasarkan wilayah, yakni Kring Utara, Kring Tengah, dan Kring Selatan.
Berdasarkan data inventarisasi panitia, ziarah menjangkau lebih dari 70 titik makam yang tersebar di wilayah Kalurahan Gilangharjo dan Kalurahan Wijirejo. Lokasi-lokasi tersebut menjadi tempat peristirahatan terakhir para tokoh yang pernah mengambil bagian dalam pemerintahan, pelayanan masyarakat, serta perjalanan sosial dan budaya di wilayah tersebut.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial dalam rangkaian hari jadi. Ziarah menjadi cara untuk mengingat kembali bahwa perjalanan Gilangharjo hingga mencapai usia 80 tahun tidak terlepas dari pengabdian panjang para pendahulu yang telah meletakkan dasar kehidupan pemerintahan dan masyarakat.
Tim Kring Selatan menyusuri sejumlah makam tokoh dari wilayah Ngaran, Karanggede, Gunting, Depok, Krekah, Banjarwaru, dan Tegallurung. Dalam daftar yang dihimpun, terdapat nama-nama mantan lurah dan pamong, antara lain R. Prawiro Rejo dan Imo Wijoyo yang tercatat pernah menjabat sebagai Lurah Krekah, Sastro Suwito sebagai Carik Desa, serta sejumlah mantan dukuh dari berbagai padukuhan.
Sementara itu, Tim Kring Utara menjangkau makam para tokoh dari wilayah Kadisoro, Jodog, Dalaman, dan Karangasem. Sejumlah nama yang tercatat dalam sejarah pemerintahan setempat antara lain Sudiro Harjono, Siswo Supoyo, dan Hadi Subroto atau Rali, yang pernah mengemban tugas sebagai dukuh. Tim ini juga mengunjungi makam tokoh dan pamong lain yang tersebar di sejumlah lokasi, termasuk wilayah Wijirejo.
Adapun Tim Kring Tengah menelusuri makam para pendahulu dari wilayah Jomboran, Kauman, Bongsren, dan Kadekrowo. Di antara nama yang tercatat adalah Prawiro Sumarto, yang pernah menjabat sebagai Lurah Gilangharjo, serta Guno Pandriyo, yang dikenal dalam catatan inventarisasi sebagai penggagas Desa Gilangharjo. Daftar tersebut juga memuat sejumlah mantan dukuh dan tokoh masyarakat yang memiliki peran dalam perjalanan wilayah.
Pembagian tim berdasarkan kring memudahkan pelaksanaan ziarah di tengah sebaran lokasi makam yang cukup luas. Lebih dari sekadar mengunjungi makam, kegiatan ini membuka kembali ingatan tentang para pemimpin, pamong, dan tokoh masyarakat yang pernah menjalankan tanggung jawab pada masa berbeda.
Catatan mengenai nama, jabatan, dan lokasi makam para pendahulu menjadi bagian penting dari upaya menjaga sejarah lokal. Dari mantan lurah hingga dukuh, dari pamong pemerintahan hingga tokoh masyarakat, mereka memiliki peran masing-masing dalam membentuk kehidupan sosial dan pemerintahan yang diwarisi generasi saat ini.
Ziarah tersebut sekaligus mengingatkan bahwa pembangunan kalurahan bukanlah hasil kerja satu generasi. Pelayanan pemerintahan, perkembangan wilayah, serta kehidupan sosial dan budaya masyarakat merupakan bagian dari proses panjang yang melibatkan banyak orang dan berlangsung lintas zaman.
Dalam konteks Hari Jadi ke-80, mengenang para pendahulu juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan tanggung jawab pamong yang masih bertugas. Pengabdian generasi terdahulu menjadi pengingat bahwa jabatan dalam pemerintahan bukan semata-mata kedudukan, melainkan amanah untuk melayani masyarakat dan menjaga keberlangsungan kehidupan bersama.
Keterlibatan Bamuskal, staf, dukuh, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas dalam kegiatan ini turut memperlihatkan pentingnya kebersamaan dalam merawat sejarah dan identitas wilayah. Sejarah kalurahan bukan hanya milik pemerintah, melainkan bagian dari ingatan kolektif masyarakat yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Lebih jauh, pendataan makam dan tokoh pendahulu dapat menjadi pijakan bagi penguatan dokumentasi sejarah Gilangharjo. Informasi mengenai nama, jabatan, dan lokasi makam merupakan sumber pengetahuan lokal yang bernilai, terutama untuk memperkenalkan perjalanan pemerintahan desa kepada generasi muda.
Melalui ziarah ke lebih dari 70 titik makam pada 8 Oktober 2026, Pemerintah Kalurahan Gilangharjo menempatkan penghormatan terhadap leluhur sebagai bagian dari rangkaian peringatan hari jadi. Kegiatan ini menghubungkan perjalanan masa lalu dengan tanggung jawab masa kini, sekaligus mengingatkan bahwa usia 80 tahun membawa warisan sejarah yang perlu dirawat.
Penghormatan kepada para pendahulu pada akhirnya tidak berhenti pada doa dan kunjungan ke makam. Nilai pengabdian mereka perlu diteruskan melalui pelayanan publik yang semakin baik, pembangunan yang menjawab kebutuhan warga, pelestarian budaya, dan upaya menjaga kebersamaan masyarakat.
Memasuki usia ke-80, Gilangharjo memiliki kesempatan untuk semakin memperkuat identitas dan dokumentasi sejarahnya. Mengenali siapa saja yang pernah berperan dalam perjalanan kalurahan merupakan bagian dari upaya memahami asal-usul, menghargai proses, dan menyiapkan masa depan.
Ziarah ini menjadi pengingat bahwa di balik perjalanan panjang Gilangharjo terdapat pengabdian banyak generasi. Mengenang mereka berarti merawat sejarah, sedangkan meneruskan nilai-nilai baik yang diwariskan merupakan bentuk penghormatan paling nyata bagi kemajuan Kalurahan Gilangharjo dan kesejahteraan masyarakatnya.