Nyadran Agung Makam Gunung Tambalan: Merawat Jejak Mataram Islam dan Menguatkan Persatuan Warga

09 Februari 2026
Wartawan Kalurahan
Dibaca 12 Kali

Gilangharjo, Tradisi Nyadran Agung kembali digelar dengan khidmat di Makam Gunung Tambalan, Kauman RT 01, Gilangharjo, pada Minggu Legi, 8 Februari 2026. Kegiatan yang bertepatan dengan haul KRT Jayadiningrat ini menjadi momentum berkumpulnya pamong dan bamuskal kalurahan gilangharjo, masyarakat, ahli waris, serta para pegiat budaya untuk merawat ingatan sejarah sekaligus memperkuat nilai kebersamaan.

Semula, acara ini dijadwalkan dihadiri oleh Bupati Bantul. Namun karena berhalangan, kehadiran pemerintah daerah diwakili oleh perwakilan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul. Dukungan terhadap kegiatan ini juga mengalir melalui pendanaan Dana Keistimewaan (Danais) yang disalurkan lewat Dinas Kebudayaan, sebagai bentuk komitmen pelestarian tradisi dan situs sejarah lokal.

Sejak siang hari, masyarakat tampak memadati kawasan makam. Prosesi berlangsung dengan nuansa sakral dan penuh penghormatan, ditandai dengan doa bersama, ziarah, serta tradisi umbuldonga Mataraman untuk para bupati pendahulu. Kehadiran para ahli waris dan warga lintas generasi menambah kekhidmatan, menjadikan Nyadran bukan sekadar agenda tahunan, tetapi ruang temu antara sejarah, budaya, dan spiritualitas.

Dalam pelaksanaannya, tradisi arak jodhang tetap menjadi bagian penting dari rangkaian Nyadran. Pada tahun-tahun sebelumnya, jodhang biasanya diberangkatkan dari rumah juru kunci di Kauman RT 02, diiringi warga setempat menuju kompleks Makam Gunung Tambalan. Namun tahun ini, suasana terasa lebih semarak. Arak-arakan jodhang tidak hanya diikuti masyarakat, tetapi juga diiringi oleh pasukan bregada Gilang Wira Tamtama dari Kalurahan Gilangharjo. Kehadiran bregada ini menjadi simbol kuat bersatunya berbagai lapisan masyarakat dalam upaya menjaga dan melestarikan budaya leluhur.

Iringan bregada dengan busana adat menambah nuansa sakral sekaligus mempertegas nilai historis yang terkandung dalam tradisi Nyadran. Prosesi tersebut tidak hanya menjadi tontonan budaya, tetapi juga pengingat bahwa warisan tradisi hanya dapat bertahan apabila dijaga bersama oleh masyarakat, pemerintah, dan generasi muda.

Puncak acara diisi dengan tausiyah oleh Ustaz Yaser Arafat, M.A., yang mengangkat tema manaqib Mataram Islam. Dalam penyampaiannya, ia mengulas perjalanan sejarah Mataram Islam, nilai kepemimpinan para tokohnya, serta garis keturunan yang terhubung hingga sosok KRT Jayadiningrat. Uraian tersebut memperkaya pemahaman masyarakat bahwa tradisi nyadran bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bentuk penghormatan terhadap jasa para leluhur yang telah membangun tatanan sosial dan spiritual di tanah Mataram.

Penjelasan tentang manaqib itu juga menjadi pengingat bahwa masyarakat masa kini memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan nilai tersebut, baik melalui doa, tradisi, maupun sikap hidup yang mencerminkan penghormatan kepada sejarah.

Antusiasme masyarakat yang hadir menunjukkan bahwa Nyadran Agung Gunung Tambalan masih memiliki tempat kuat di hati warga. Tidak hanya menjadi ruang spiritual, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga, ahli waris, dan seluruh elemen masyarakat.

Dukungan pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul menjadi salah satu faktor penting dalam keberlangsungan tradisi ini. Melalui Danais, kegiatan yang sarat nilai sejarah dan budaya dapat terus dilaksanakan secara tertata, sekaligus menjadi bagian dari pelestarian warisan Mataram Islam di tingkat lokal.

Nyadran Agung Gunung Tambalan pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang menjaga kesinambungan nilai, sejarah, dan identitas budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat. Kehadiran arak jodhang yang diiringi bregada tahun ini menjadi penanda bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas segelintir pihak, melainkan gerakan bersama seluruh lapisan masyarakat untuk merawat jejak leluhur dan memperkuat persatuan.